Launching Buku Antologi Puisi Karya Guru dan Siswa.

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
"Membaca tanpa memikirkannya ibarat makan tanpa mengunyah". (Edmund Burke)

SnekingOneNews – Setelah menunggu selama dua bulan, akhirnya Buku Antologi Puisi hasil karya guru dan siswa kelas IX SMP Negeri 1 Kedungpring bisa di launching oleh Kepala Sekolah pada hari Sabtu (20/06/2020). Pelaksanaan kegiatan ini dilakukan dihalaman lapangan upacara dengan dihadiri sejumlah siswa kelas IX, stakeholder dan wali kelas IX. Mengingat saat ini dalam kondisi pandemi, sehingga pelaksanaan prosesinya pun dilakukan secara sederhana dan tetap mematuhi protokol kesehatan.

Sekitar pukul 07.30 seluruh siswa memasuki lapangan diawali dengan kegiatan apel yang pimpin langsung oleh kepala sekolah. Dalam kesempatan tersebut bunda menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas pencapaian luar biasa hingga menghasilkan sebuah buku antologi. Beliau juga berharap agar setelah lulus dari sekolah, tidak mengecewakan nama almamater dan bisa produktif di sekolah jenjang menengah atas. Hampir kurang lebih 20 menit beliau melakukan sambutan selanjutnya dilanjutkan dengan pembacaan puisi dari karyanya masing-masing mulai dari Sri Wahjuni, S.Pd., M.Pd, Mukminin, M.Pd, dan Dra. Ismin Pudji W Setelah itu dilanjutkan dengan karya Siswa yang dibacakan secara perwakilan tiap-tiap kelas mulai dari kelas IX-A bergantian hingga kelas IX-I. Sebelum acara ditutup dengan doa, terlebih dulu dilangsungkan prosesi serah terima buku ke siswa yang dilakukan secara simbolik.
Kegiatan yang berjalan kurang lebih 1,5 jam ini berjalan dengan lancar sesuai rencana dan tentunya sangat bermakna.

Ide pembuatan buku ini berawal dari kegelisahan pihak sekolah disaat mulai merebaknya kasus virus korona di negeri ini dan diterbitkannya SE Kemendikbud RI No.4 tahun 2020 tanggal 24 Maret 2020 tentang pelaksanaan kebijakan pendidikan dalam masa darurat penyebaran Covid 19. Dua hari setelah diterbitkannya SE dari Kemendikbud ini, pihak dinas pendidikan kabupaten Lamongan menyikapi hal tersebut dengan membuat surat edaran untuk sekolah-sekolah dibawah naungannya. Surat edaran dari dinas yang bernomor 005/0745/413.101/2020 tanggal 26 Maret 2020 itu berisi tentang peniadaan ujian sekolah dan ujian nasional, kriteria kelulusan kelas IX, teknis pelaksanaan dan rambu-rambu dalam menerapkan kegiatan belajar dari rumah, dan kriteria kenaikan kelas.

Adapun pengaruh dikeluarkannya surat edaran ini sangat besar terutama sedikit membuat kalang kabut dikalangan instansi pendidikan khususnya di lembaga-lembaga pendidikan di kabupaten Lamongan baik yang negeri maupun swasta. Bagaimana tidak, banyak kegiatan-kegiatan yang sudah menjadi agenda rutin di semester dua ini mau tidak mau harus ditunda dan bahkan dibatalkan seperti kegiatan PTS, PAT, USBN/USBK, Ujian Praktek, UNBK, perkemahan akhir tahun, wisuda kelas IX dan Study Tour.

Dalam menerapkan pembelajaran daring seperti yang disampaikan dalam surat edaran dari pemerintah dan dinas pendidikan ini mau tidak mau pihak sekolah harus bekerja keras agar bisa melaksanakan kegiatan daring dengan baik. Banyak sekolah-sekolah di Indonesia khususnya di Kabupaten Lamongan yang belum siap beradaptasi dengan teknologi khususnya dari sisi gurunya sehingga pembelajaran model daring ini dirasa sangat memberatkan.

Beruntung di SMPN 1 Kedungpring sudah mengawali lebih dulu pembelajaran berbasis digital, sehingga pada saat dikeluarkannya surat edaran tersebut, pihak sekolah tidak terlalu bersusah payah melakukan sosialisasi ke siswa. Sebagian besar Bapak/Ibu guru juga sudah faham dan terbiasa dengan pembelajaran digital. Mereka sudah pernah memanfaatkan Google Classroom, Google Form, Rumah Belajar, Kahoot! dan test online. Bahkan SMPN 1 Kedungpring ini bisa dibilang sebagai pelopor kelas digital di Kabupaten Lamongan dan itupun sudah dilakukan sebelum adanya pandemi Covid 19.

Dalam urusan pembelajaran daring pihak sekolah tidak terlalu memikirkan karena SDM-nya hampir semua sudah siap termasuk juga siswanya, namun yang menjadi pemikiran pihak sekolah saat itu adalah siswa kelas IX dimana siswa akan lulus tanpa melalui tahapan-tahapan. Bunda Yuni selaku kepala sekolah tidak menginginkan siswa kelas IX lulus begitu saja tanpa ada kriteria kelulusan. Beliau menghendaki minimal ada satu syarat saja yang harus dipenuhi agar kelulusannya ini bisa bermakna dan bisa menjadi kenangan serta menjadi pengalaman yang berharga ketika belajar di SMPN 1 Kedungpring.
Akhirnya kepala sekolah mengumpulkan guru TI dan guru penguji praktek bahasa Indonesia kelas IX yang saat itu sebagai koordinatornya adalah Mukminin, M.Pd agar bisa memberikan masukan-masukan yang intinya ada kolaborasi dengan teknologi informasi. Setelah terjadi pembicaraan yang cukup panjang, akhirnya diputuskan untuk membuat sebuah buku antologi puisi yang nantinya akan diterbitkan dan dibagi per siswa sebagai kenang-kenangan.

Proses dalam pembuatan buku tersebut terbilang cukup panjang mulai sekitar Minggu akhir bulan Maret, Guru penguji praktek melakukan sosialisasi dan membagikan link pengumpulan tugas ke wali kelas melalui grup WA dinas dan selanjutnya diteruskan ke grup kelas masing-masing. Dalam link tersebut siswa diwajibkan mengisi biodata secara lengkap, membuat motto pribadi dan mengunggah foto close up serta file puisi berekstensi txt, doc atau docx yang bisa dibuat dengan aplikasi microsoft word di komputer atau aplikasi serupa di smartphone seperti WPS Office atau aplikasi pengolah kata lainnya. Khusus siswa kelas IX A diberi tambahan tugas berupa membuat file puisi berupa file gambar yang didesain menarik menggunakan aplikasi Canva atau sejenisnya.

Koordinator ujian praktek awalnya menarget selama satu bulan sudah terkumpul semua, namun pada kenyataannya molor hingga dua bulan. Molornya target itu dikarenakan banyak faktor, diantaranya adalah sebagian dari siswa tidak begitu memperhatikan apa yang disampaikan di grup kelas, bingung dengan aplikasi yang digunakan untuk mengedit file puisi, tidak bisa login melalui link formulir karena terkendala email, kurang begitu memahami apa yang diinginkan di link formulir dan sebagian karena faktor wali kelas yang kurang intens dalam mengingatkan ke siswa.
.

Tidak ingin berlama-lama, akhirnya koordinator dan tim melakukan jemput bola dan meminta bantuan dari guru BK. Menjelang pengumpulan paling akhir pun masih tersisa beberapa anak kurang lebih ada 10an lebih siswa. Sehingga kami membuat keputusan agar siswa yang tersisa tersebut diwajibkan datang ke sekolah dan akan dibantu guru TI dalam memecahkan permasalahannya. Setelah semua file tugas dari siswa terkumpul, selanjutnya dilakukan proses penyuntingan teks dan pengaturan layout agar nanti ketika dicetak hasilnya bisa seragam dan setelah itu dibawa ke penerbit.

Itulah pengalaman berharga yang bisa dirasakan bagi kami semua dan akan menjadi titik awal dalam menyusun kegiatan selanjutnya yang sifatnya kolaborasi dengan TI. (afh)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Leave a Replay

About Me

SMP Negeri 1 Kedungpring merupakan sekolah yang bisa beradaptasi dengan cepat mengikuti perkembangan jaman. Banyak prestasi yang sudah ditorehkan mulai dari tingkat kabupaten hingga nasional.

Recent Posts

Profil Bahrun Amiq

Launching Sekolah Digital

Sign up for our Newsletter

masukkan alamat email untuk mendapatkan informasi terbaru dari kami.

Scroll to Top
%d blogger menyukai ini: